Selasa, 21 April 2015

BIAYA PANEN PENGARUHI ZAKAT?


a.      Deskripsi Masalah
Pertanian pada saat ini sungguh membutuhkan biaya yang mahal, mulai dari biaya pemupukan, panen, penyemprotan racun hama dan semisalnya, sehingga sebagian masyarakat enggan untuk mengelurkan zakat hasil,  walaupun hasilnya sudah sampai satu Nishab.
b.      Pertanyaan:
1.      Adakah qaul yang mengatakan biaya pemupukan, panen dan yang semisalnya bisa mempengaruhi prosentase pengeluaran zakat ?
2.      Jika biaya panen, pupuk dan semisalnya, lebih banyak dari hasil panen, masihkah zakat wajib dikeluarkan ?
3.      Benarkah tindakan masyarakat yang tidak mau mengeluarkan zakat, karena pertanian saat ini membutuhkan biaya yang sangat mahal ?
c.      Jawaban:
1.      Tidak ada qaul yang mengatakan biaya pertanian mempengaruhi prosentase pengeluaran zakat. Cuman ada qaul yang mengatakan, biaya tersebut bisa mempengaruhi wajib dan tidaknya mengeluarkan zakat. Jelasnya, biaya tersebut di ambil terlebih dahulu dari harta zakat sesuai dengan kadar yang di keluarkan, bila sisanya masih mencapai satu nishab maka wajib mengeluarkan zakat, dan apabila setelah dikurangi biaya tidak sampai satu nishab, maka zakat tidak wajib dikeluarkan.
2.      Tidak wajib jika mengikuti pendapat yang mengatakan, biaya tersebut dapat mempengaruhi kewajiban mengeluarkan zakat.
3.      Tafsil :
Pertama: Tidak dibenarkan, apabila setelah dikurangi biaya tersebut, sisanya tetap mencapai satu nishab.
Kedua: Dibenarkan kalau memang  setelah dikurangi biaya tersebut sisanya tidak mencapai satu nishab.
d.      Rujukan:
وَعَنْ عَطَاءٍ أَنــَّهُ يَسْقُطُ مِمَّا أصَابَ النَفَقَةَ   فََإنْ بَقِىَ مِقْدَارُ مَا فِيْهِ الزَّكَاةُ زُكِّىَ، وَإلاَّ فَلاَ. (فتاوى الأزهر جـ 1/ صـ 179)

وَتَعَرَّضَ إبْنُ الْعَرَبِىِّ فِي شَرْحِ الــتــُّرْْمُذِيِّ لِهَذِهِ الْمَسَألَةِ فَقَالَ: إخْتــَلَفَ قَوْلُ عُلَمَائِنَا، هَلْ تَحُطُّ الْمُؤْنـَةُ مِنَ الْمَالِ اْلمُزَكىَّ، وَحِيْنَئِذٍ تَجِبُ الزَّكَاةُ -أيْ فِي الصَّافِي- أوْ تــَكُوْنَ مُؤنــَةُ الْمَالِ وَخِدْمَتِهِ – حَتــَّى يَصِيْرَ حَاصِلاً- فِي رَبِّ الْمَالِ، وَتـُؤْخَذُ الزَّكَاةُ مِنَ الرَّأْسِ - أيْ مِنْ إجْمَالِيِّ اْلحَاصِلِ؟ فَذَهَبَ إلَى أنــَّهُ الصَّحِيْحُ أنْ تـــَحُطَّ وَتَرْفَعَ مِنَ اْلحَاصِلِ، وَأنَّ الْبَاقِيَ هُوَ الَّذِيْ يُؤْخَذُ عُشُرُهُ، وَاسْتَدَلَّ لِذَلِكَ بِحَدِيْثِ النَّبِيِّ -صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: "دَعُوْا الثــُلُثَ أوِ الرُّّبــُعَ"، وَأنَّ الثُّلُثَ أوِ الرُّبــُعَ يُعَادِلُ قَدْرَ اْلمُؤْنَةِ تَقْرِيْبًا، فَإذَا حُسِبَ مَا يَأْكُلُهُ رَطْبًا، وَمَا يُنْفِقُهُ مِنَ اْلمُؤْنــَةِ تَخَلَّصَ الْبَاقِي ثــَلاَثــَةَ أرْبَاعٍ، أوْ ثــُلُثــَيْنِ، قَالَ: وَلَقَدْ جَرَّبْنَاهُ فَوَجَدْنَاهُ كَذَلِكَ فِي اْلأغْلَبِ. إهـ شرح الترمذي: 3/134 ( فقه الزكاة - ليوسف القرضاوي  جـ 1/ صـ 346)

Sumber : Hasil Musyawaroh Santri Sidogiri 

PERNAK-PERNIK AMIL ZAKAT

PERNAK-PERNIK AMIL ZAKAT
a.        Deskripsi Masalah
Di suatu desa seorang tokoh masyarakat mengangkat panitia zakat untuk mengurusi zakat fitrah, mulai dari mengumpulkan, membungkus, mendata mustahiq, mendistribusikan, dll. Beraspun terkumpul sangat banyak, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang extra. Oleh karena itu, beberapa tokoh masyarakat berinisiatif menambah personil, dan mengajukannya kepada kepala desa setempat untuk diangkat secara resmi (mendapatkan SK), agar mereka bisa mengambil sebagian dari harta zakat sebagai amil.
b.        Pertanyaan:
1.      Apakah panitia yang diangkat kepala desa sebagaimana deskripsi di atas bisa dikatagorika Amil Zakat secara syara’, mengingat tidak memungkinkannya pengangkatan secara langsung dari presiden?
2.      Bolehkan seorang Imam mengangkat amil zakat lebih dari yang dibutuhkan semisal enam orang, padahal pekerjaannya bisa ditangani oleh tiga orang saja yang mengesankan dapat mengurangi jatah mustahiq?
c.        Jawaban:
1.      Tidak Bisa.
2.      Tidak Boleh.
d.        Rujukan:
الصِّنْفُ الثَّالِثُ الْعَامِلُ وَإِنْ كان غَنِيًّا وَبَعَثَهُ لِأَخْذِ الزَّكَوَاتِ وَاجِبٌ على الْإِمَامِ كما مَرَّ بَيَانُهُ في بَابِ أَدَاءِ الزَّكَاةِ وَيَدْخُلُ في اسْمِهِ السَّاعِي وهو الذي يَبْعَثُهُ الْإِمَامُ لِأَخْذِ الزَّكَوَاتِ وَالْكَاتِبُ وهو من يَكْتُبُ ما يُؤْخَذُ وَيُدْفَعُ وَالْقَاسِمُ وَالْحَاشِرُ وهو الذي يَجْمَعُ أَرْبَابَ الْأَمْوَالِ وَالْعَرِيفُ وهو الذي يَعْرِفُ أَرْبَابَ الِاسْتِحْقَاقِ وهو كَالنَّقِيبِ لِلْقَبِيلَةِ وَالْحَاسِبُ وَالْحَافِظُ لِلْأَمْوَالِ وَالْجُنْدِيُّ وَالْجَابِي لَا الْإِمَامُ وَالْوَالِي وَالْقَاضِي فَلَا حَقَّ لهم في الزَّكَاةِ بَلْ رِزْقُهُمْ في خُمُسِ الْخُمُسِ الْمُرْصَدِ لِلْمَصَالِحِ الْعَامَّةِ إنْ لم يَتَطَوَّعُوا بِالْعَمَلِ لِأَنَّ عَمَلَهُمْ عَامٌّ. (أسنى المطالب في شرح روض الطالب، جــ 1/صــ 395)
(وَاْلعَامِلُ كَسَاعٍ) وَهُوَ مَنْ يَبْعَثُهُ اْلإمَامُ لِأخْذِ الزَّكَاةِ (وَقَاسِمٍ وَحَاشِرٍ لاَ قَاضٍ). (فتح المعين، جــ 2/صــ 190)

إِذَا لَمْ تَقَعِ الْكِفَايَةُ بِسَاعٍ وَاحِدٍ ، أَوْ كَاتِبٍ وَاحِدٍ ، أَوْ حَاسِبٍ وَاحِدٍ ، أَوْ حَاشِرٍ أَوْ نَحْوِهِ زِيدَ فِي الْعَدَدِ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ. (المجموع شرح المهذب، جــ 6/صــ 188) و (الموسوعة الفقهية الكويتية، جــ 29/صــ 228) و (المنهج القويم، صــ 494)

ROKOK ELEKTRIK BAGI ORANG YANG PUASA?



a.        Deskripsi Masalah
Kabar gembira bagi "PKB" (Perokok Kelas Berat) yang ingin berhenti merokok. Dengan membeli rokok elektrik kita bisa merokok sepuasnya tanpa takut serangan jantung dll. Rokok yang hanya mengelurkan uap bukan asap ini terbukti mampu membuat pecandu rokok berhenti.
b.        Pertanyaan:
Bagaimana jika rokok tersebut dikonsumsi pada waktu berpuasa apakah sampai membatalkan puasa?
c.      Jawaban:
Diperinci: Apabila Rokok Elektrik tersebut mengandung 'ain maka termasuk hal yang dapat membatalkan puasa, apabila tidak mengandung 'ain maka tidak.
Catatan: Dalam hal ini (Rokok Elektrik) masih membutuhkan pembuktian yang Valid.
d.        Rujukan:

) وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل .وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ ، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ . )تحفة الحبيب على شرح الخطيب ـ مشكول، جـ 6/ صـ 440(

BUKA PUASA KARENA RADIO; HARAM?

BUKA PUASA KARENA RADIO, HARAM?





      a. Deskripsi Masalah
Perbedaan letak geografis suatu daerah menimbulkan problematika dalam permasalahan fiqh. Khususnya di bulan Ramadan. Karena tidak sedikit di kalangan masyarakat, ketika menjelang waktu maghrib mereka duduk di depan radio, guna mendengarkan azan maghrib. Padahal azan maghrib yang mereka dengar di radio, bukanlah azan Maghrib di daerahnya sendiri, melainkan azan Maghrib di daerah lain yang selisih waktunya kira-kira 2 menit lebih cepat.
b.        Pertanyaan:
1. Bolehkah mengikuti waktu maghribnya daerah lain yang mendahului daerahnya sendiri?
2.    Bolehkah mengikuti waktu Maghrib hanya berdasarkan radio?
3.  Sebenarnya, apa yang menjadi patokan waktu Maghrib bagi daerah yang tidak mengetahui tenggelamnya matahari?

c.        Jawaban:
1.    Tidak boleh, karena setiap daerah memiliki waktu-waktu tersendiri. Kecuali apabila :
ü  Daerah yang diikuti baik dekat atau jauh berada di sebelah barat daerah yang mengikuti.
ü  Azan di radio itu menghasilkan al-ilmu bidukhûlil waqti.
2.    Tidak boleh, kecuali yakin bahwa muadzinnya adil, mengetahui waktu, dan tidak sembrono.
3.    Diperinci:
ü  Daerah yang tidak mengalami ghurub (seperti daerah kutub) maka waktu shalatnya mengikuti daerah yang paling dekat;
ü  Daerah yang mengalami ghurub akan tetapi untuk mengetahui ghurub secara langsung masih terhalang oleh gunung atau bangunan maka waktu maghribnya menunggu habisnya bias cahaya matahari;
ü  Daerah yang mengalami ghurub dan untuk melihat ghurub tidak terhalang oleh apapun maka waktu maghribnya adalah dengan tenggelamnya bundaran matahari meskipun masih ada bias cahaya;
d.        Rujukan:
فَعُلِمَ اَنَّ مَنْ سَمِعَ أَذَانَ إِنْسَانٍ اَوْ اَخْبَرَهُ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ لَا يَجُوْزُ الْاِعْتِمَادُ عَلَيْهِ اِلَّا اِنْ عُلِمَ اتِّصَافُهُ بِالْعَدَالَةِ وَمَعْرِفَةُ اْلوَقْتِ وَعَدَمُ تَسَاهُلِهِ فِي ذَلِكَ، وَلَمْ يُكَذِّبْهُ الْحِسُّ وَالْعَادَةُ وَلَمْ يُعَارِضْ خَبَرُهُ فَلَوْاَخْبَرَ اَوْثَقَ اَوْ اَكْثَرَ بَلْ اضوْ مِثْلُهُ تَسَاقَطَا وَلَمْ يَجُزْ العَمَلُ بِقَوْلِهِ نَعَمْ لَوِ اعْتَقَدَ صِدْقَ الْفَاسِقِ وَاجْتَمَتْ فِيْهِ بَقِيّضةَ الشُّرُوْطِ جَازَ الْعَمَلُ بِقَوْلِهِ مُطْلَقًا وَيَجُوْزُ اِعِتِمِادُ السَّاعَاتِ الْمَضْبُوْطَةِ والْمَنَاكِيْبِ الْمُحَرَّرَةِ اِذْهُمَا اَقْوَى مِنَ الْاِجْتِهَادِ. (بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ، صـ 65)
مَرَاتِبُ الْوَقْتِ ثَلَاثَةٌ: العِلْمُ بِنَفْسِهِ أَوْ بِخَبَرِ الثِّقَةِ عَنْ عِلْمٍ أَوْ بَيْتِ الْإِبْرَةِ الْمَزَاوِلِ الْمُجْرِبَةِ أَوِ السَّاعَاتِ الْصَحِيْحَةِ ، هَذِهِ الْأَرْبَعَةُ فِي مَرْتَبَةِ الْعِلْمِ بِالْوَقْتِ ، ثُمَّ الْاِجْتِهَادُ تم تَقْلِيْدُ الْمُجْتَهِدِ وَنَظَمَهَا بَعْضُهُمْ فَقَالَ : قدم لِنَفْسِكَ عِلْمَ الْوَقْتِ وَاجْتَهدَا مِنْ بَعْدِ ثمت قَلِّدْ فِيْهِ مُجْتَهِدَا وَالْمَزُوْلات وَبَيْتُ الْإِبْرَةِ إِنْ صُدِّقَا إِخْبَارَ عَدْلٍ بِمَعْنَى الْعِلْمِ فَاعْتَقِدَا وَمَرَاتِبُ مَعْرِفَةُ الْقِبْلَةِ أَرْبَعَةٌ العِلْمُ بِنَفْسِهِ ثُمَّ بِقَوْلِ الْثِّقَةِ ثُمَّ الْاِجْتِهَادِ ثُمَّ تَقْلِيْدُ الْمُجْتَهِدِ .) حَاشِيَةُ الْبُجَيْرَمِي عَلَى الْخَطِيْبِ،  جـ 4/ صـ 97)
فَاَوَّلُ وَقْتِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسٌ وَتَكَامَلَ غُرُوْبُهَا وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيْهِ نَقَل ابْنُ الْمُنْذِرُ وَخَلَائِقُ لَا يَحْصُوْنَ الْاِجَماعَ فِيْهِ قَالَ اَصْحَابُنَا وَاْلاِعِتِبِارُ سُقُوْطُ قَرْصِهَا بِكَمَالِهِ وَذَلِكَ ظَاهِرٌ فِي الصَّحْرَاءِ قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْاَصْحَابُ وَلَا نَظَرَ بَعْدَ تَكَامُلِ الْغُرُوْبِ اِلَي بَقَاءِ شَعَاعِهَا بَلْ يَدْخُلُ وَقْتُهاَ مَعَ بَقَائِهِ وَأَمَّا فِي اْلُعْمَرانِ وَقلل الْجِبَالِ فَالِاعْتِبَارُ بِاَنْ لَا يُرَى شَئْ مِنْ شَعَاعِهَا عَلَي الْجُدرْاَن وقَلَلِ الْجِبَالِ ويقبل الَظَلاَمُ مِنَ الْمَشْرِقِ  )المَجْمُوْع،  جـ 3/ صـ 29)

PUASA SEHARI SEBELUM RAMADAN, BOLEHKAH?

PUASA SEHARI SEBELUM RAMADAN, BOLEHKAH?
a.        Deskripsi Masalah
Ramadan adalah bulan penuh berkah dan penuh rahmat, sehingga banyak sekali orang-orang dari lapisan manapun berbondong-bondong melakukan ibadah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun demikian sering kita jumpai perbedaan-perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadan sehingga berdampak kepada masyarakat dalam melaksanakan ibadah puasa setiap tahunnya. Salah satu contoh ada sebagian masyarakat yang dalam mengawali bulan puasanya dengan mengikuti hitungan lima. Mereka mamakai pedoman bahwa tanggal lima bulan Ramadan kemarin, adalah awal bulan Ramadan ini, dan  tanggal lima pada bulan Ramadan ini, adalah awal bulan Ramadan yang akan datang dan seterusnya). Hal ini berdasarkan pernyataan (ibarat) dalam kitab Nuzhatul Majâlis Juz 1 Hal. 159 Dâr Al-fikr
رَاَيْتُ فِي عَجَائِبِ الْمَخْلُوْقَاتِ لِلْقَزْوينِيْ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ جَعْفَر الصَّاِدقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَامِسُ رَمَضَانَ الْمَاضِي اَوَّلُ رَمَضَانَ الْآَتِي وَقَدْ امْتَنَحَنُوْا ذَلِكَ خَمْسِيْنَ سَنَةً فَوَجَدُوْهُ صَحِيْحًا...
Ada juga sebagian masyarakat yang melakukan puasanya dengan berpegangan pada  penetapan pemerintah. Cuma dia melakukan puasanya satu hari sebelum tanggal satu Ramadan, dengan alasan ihtiyât (hati-hati). Padahal kita tahu sebelum tanggal satu Ramadan adalah Yaumu As-Syâk Yang dilarang berpuasa.
b.        Pertanyaan:
1.    Apakah memang benar paham yang terdapat dalam pernyataan (ibarat) diatas?
2.    Apakah diperbolehkan melakukan ibadah puasa sebelum tanggal satu yang ditetapkan pemerintah dengan alasan ihtiyat?     
c.        Jawaban:
1.    Penentuan awal bulan Ramadan atau bulan Syawal tidak dapat menggunakan pedoman yang diterangkan dalam kitab Nuzhatul Majâlis di atas. Bahkan, menurut para ulama, kitab Nuzhatul Majâlis tidak boleh dipelajari karena banyak mengandung hadits Maudlû’ dan cerita-cerita palsu.
2.    Yaumu As-syak menurut madzhab Syafi’i adalah hari tanggal 30 Sya’ban dan tersiar kabar Hilal terlihat namun tidak ada orang adil yang melihat, atau yang melihat Hilal adalah anak yang belum baligh atau perempuan. Adapun hukum berpuasa sebelum tanggal 1 Ramadan karena untuk ihtiyât adalah haram.
d.        Rujukan:
﴿ التَّنْبِيْهُ الثَّاِني الَّذِي يُرَادُ بِقَوْلِ الْفُقَهَاءُ : يَجُوْزُ لِلْحَاسِبِ الخ الحِسَابُ الْهِلَالِيُ لَا الْإِصْطِلَاحِي كَمَا فِي جَدوْلِي الَّذِي لِاسْتِخْرَاجِ الْبُرُوْجِ وَلَا حِسَابُ الْحُرُوْفِ الَّذِي يُجْمَعُ بِهِ عَدَدُ جُمَلِ حُرُوْفِ السَّنَةِ وَالْأَشْهُرِ وَيُعَدُّوْنَ بِالْمَجْمُوْعِ مِنْ يَوْمِ مَعْلُوْمٍ كـ"أبوقي" عِنْدَ أَهْلِ الْجَاوِي.  ( مُنْتَهَى نَتَائِجِ الْأَقْوَالِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْوَالِ الْهِلَالِ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ حَسَن أَشْعَرِي البَاوِيَانِي الفَاسُرُوَانِي الجاَوِي، صـ 2)
وَقَاَلَ الشَّيْخُ عَبْدُ الْعَزِيْزِ الزَّمْزَمِي : وَالْمُرِادُ بِالْحِسَابِ مَعْرِفَةُ حِسَابِ قَوْسِ الْهِلَالِ وَنُوْرِهِ وَمَنْـزِلَتِهِ بِحَسبِ بُعْدِهِ عَنِ الشَّمْسِ وضخُرُوْجِهِ عَنِ شِعَاعِهَا وَبُلُوْغِهِ فِي الْبُعْدِ جِدًّا تمكن رُؤْيَتُهُ فِيْهِ عَادَةً بِحَسبِ الْإِسْتِقْرَاءِ فِي غَالِبِ الْمَعْمَوْرِ وَلِمضعْرِفَةِ ذَلِكَ طُرُقٌ هِيَ المُقَدِّمَاتُ ، فَمِنْهَا ظَنِّيَّةٌ وَهِيَ غَيْرُ مُرَادَةٍ هُنَا وَمِنْهَا قَطْعِيَّةٌ وَهِيَ الْمُرَادَةُ مِنْ كَلَامِهِ وَلَا يُعْرَفُ ذَلِكَ إِلَّا بِأَخْذِهِ مِنَ الْأَزْيَاجِ الْرَصْديةِ الْحِسَابِيَّةِ الْمُسَطرَةِ فِي الْأَزْيَاجِ وَمَعْرِفَةُ طَرِيْقِ مَأْخَذِ ذَلِكَ عُسْرٌ إِلَّا لِمَنْ سَبَقَ لَهُ فِي ذَلِكَ إشتِغَال فَيَسْتَدِلُّ عَلَى ذَلِكَ بِمَا يَعْرِفُهُ مِنْ طُرُقِ الزيجات الْمُوْصِلِ إِلَى ذَلِكَ اْلمَطْلُوْبِ. )عُمْدَةُ الْمُفْتِى وَالْمُسْتَفْتِى لِلْعِلَّامَةِ جَمَالِ الدِّيْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْبَارِي الأَهْدَلِ، جـ 1/ صـ 201-202(

وَمِنَ الْكُتُبِ الْمَشْحُوْنَةِ مِنَ الْمَوْضُوْعَاتِ وَالْخَرَافَةِ الْإِسْرَائِيلِيَّةِ كِتَابُ نُزْهَةُ الْمَجَالِسِ وَمُنْتَخَبُ النَّفَائِسِ لِلصَّفورِي فَإِنَّ مُؤَلِّفَهُ رَحِمَهُ اللهُ قَدْ شَحَنَهُ بِالْمَوْضُوْعَاتِ مِمَّا لَا يَدْخُلُ تَحْتَ حَصْرِ وَفِيْهِ حِكَايَةٌ لَا أَصْلَ لَهَا .. ِاَلَى اَنْ قَالَ .. وَمِنْهَا كِتَابُ سيْرَةِ الْبُكْرَي قَالَ ابْنُ حَجَرَ فِى الْفتَاوَى الْحَدِيْثِيَّةِ لَا يَجُوْزُ قِرَاءَتُهَا لِاَنَّ غَالِبَهَا بَاطِلٌ وَكِذْبٌ وَقَدِ اخْتَلَطَتْ فَحَرُمَ الْكُلُّ حَيْثُ لَا مُمَيِّزَ. (فِى تَحْذِيْرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْأَحَادِيْثِ الْمَوْضُوْعَةِ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ r لِلْعَلَّامَةِ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ بَشِيْرِ بْنِ ظَافِرِ الْأَزْهَرِي الشَّافِعِي،  صـ 38-39)

PROBLEM JENAZAH DALAM PETI MATI


a.        Deskripsi Masalah
Jenazah/mayit meninggal tidak berada di rumah melainkan di perantauan. Ia dibawa pulang dalam keadaan sudah di dalam peti mati sehingga kita tidak tahu cara tajhiznya dan posisinya di dalam peti. Adakalanya ia berasal dari rumah sakit dalam negri atau luar negeri bahkan dari negri non muslim. Sedang kematiannya ada yang beru sehari dua hari seminggu atau beberapa minggu.
b.        Pertanyaan:
1.    Apakah wajib membuka peti mati untuk melihat posisi mayitnya?
2.    Apakah wajib kita melakukan tajhiz (memandikan dan mengkafani). Bagaimana jika mayit telah berubah (membusuk)
3.    Jika mayit itu sebelum meninggal sering menceritakan bahwa pekerjaannya merawat anjing apakah diperlukan caar khusus untuk memandikannya.
4.    Sahkah mensalati dalam posisi mayit di dalam peti tanpa dibuka?

c.        Jawaban:
1.    Wajib membuka peti dalam rangka menjalankan kewajiban menghadapkan mayit ke arah kiblat. Kecuali apabila posisi mayit tersebut sudah dipastikan dalam keadaan menghadap kiblat ketika di masukkan ke liang lahat.
2.    Apabila keadaan mayit menunjukkan sidaj dimandikan seperti sudah bersih dan di kafani maka pihak keluarga tidak wajib memandikan dan mengkafani ulang.
3.    Bila myit itu diyakini belum disucikan dari najiz mughalladzahnya maka harus disucikan. Apabila mayit tersebut diyakini pernah bersentuhan dengan najis mughalladzah akan tetapi ada kemungkinan sudah disucikan dengan benar maka tidak wajib mensucikan mayit dari najis mugalladzah.
4.    Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i apabila dishalatkan di dalam masjid hukumnya sah meskipun petinya dipaku apabila di luar masjid tidak sah apabila dipaku.
d.        Rujukan:
 ( قَوْلُهُ فَلَوْ وُجِّهَ لِغَيْرِهَا ) أَيْ ، وَلَوْ إلَى السَّمَاءِ فَيَشْمَلُ الْمُسْتَلْقِي فَلَا قُصُورَ فِي عِبَارَتِهِ ا هـ .شَيْخُنَا .وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر فَإِنْ دُفِنَ مُسْتَدْبِرًا أَوْ مُسْتَلْقِيًا نُبِشَ حَتْمًا إنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ وَإِلَّا فَلَا وَلِئَلَّا يُتَوَهَّمَ أَنَّهُ غَيْرُ مُسْلِمٍ كَمَا يُعْلَمُ مِمَّا يَأْتِي انْتَهَتْ وَقَوْلُهُ أَوْ مُسْتَلْقِيًا نُبِشَ ظَاهِرُهُ ، وَلَوْ لِلْقِبْلَةِ .وَعِبَارَةُ الشَّيْخِ عَمِيرَةَ نَصُّهَا لَوْ جُعِلَ الْقَبْرُ مُمْتَدًّا مِنْ قِبْلِيٍّ إلَى بَحْرِيٍّ وَأُضْجِعَ عَلَى ظُهْرِهِ وَأَخْمَصَاهُ لِلْقِبْلَةِ وَرُفِعَتْ رَأْسُهُ قَلِيلًا كَمَا يُفْعَلُ بِالْمُحْتَضَرِ هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ أَمْ يَحْرُمُ لَمْ أَرَ مَنْ تَعَرَّضَ لَهُ وَالظَّاهِرُ التَّحْرِيمُ ، ثُمَّ رَأَيْت فِي حَجّ التَّصْرِيحُ بِالْحُرْمَةِ أَيْضًا وَسَيَأْتِي ذَلِكَ فِي كَلَامِ الشَّارِحِ أَيْضًا بَعْدَ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ فِي الزِّيَادَةِ أَوْ دُفِنَ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ ا هـ . (حاشية الجمل، جـ 7/ صـ 179)
 (وَ) الْأَصَحُّ (أَنَّهُ) أَيْ فَرْضُ الْكِفَايَةِ (عَلىَ الْكُلِّ) لِإِثْمِهِمْ بِتَرْكِهِ كَمَا فِي فَرْضِ الْعَيْنِ، وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى {قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ} وَهَذَا مَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ. (وَيَسْقُطُ) الْفَرْضُ (بِفِعْلِ الْبَعْضِ) – اِلَى اَنْ قَالَ--  وَقِيْلَ فَرْضُ الْكِفَايَةِ عَلىَ الْبَعْضِ لَا الْكُلِّ وَرَجَّحََهُ الْأَصْلُ وِفَاقًا بِزَعْمِهِ لِلْإِمَامِ الرَّازِي لِلْاِكْتِفَاءِ بِحُصُوْلِهِ مِنَ الْبَعْضِ—اِلَى اَنْ قَالَ -- فَعَلَى قَوْلِ الْكُلِّ مَنْ ظَنَّ أَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَهُ أَوْ يَفْعَلُهُ سَقَطَ عَنْهُ، وَمَنْ لَا فَلاَ، وَعَلىَ قَوْلِ الْبَعْضِ مَنْ ظَنَّ أَنْ غَيْرَهُ لَمْ يَفْعَلْهُ وَلَا يَفْعَلُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَنْ لَا فَلاَ. (غاية الوصول في شرح لب الأصول، صـ 18)
 (مَسْأَلَةٌ : ي) : خُذْ قَاعِدَةً يَنْبَغِي الاِعْتِنَاُء بِهَا لِكَثْرَةِ فُرُوعِهَا وَنَفْعِهَا ، وَهِيَ كُلُّ عَيْنٍ لَمْ تُتَيَقَّنْ نَجَاسَتُهَا لَكِنْ غَلبَتْ النَّجَاسَةُ فِي جِنْسِهَا ، كَثِيَابِ الصِّبْيَانِ ، وَجهْلَةِ الجَزَّارِيْنَ ، وَالْمُتَدِيِّنِيْنَ مِنَ الْكُفَّارِ بِالنَّجَاسَةِ كَأَكْلَةِ الخَنَازِيْرِ أَرْجَحُ الْقَوْلَيْنِ فِيْهَا الْعَمَلُ بِالْأَصْلِ وَهُوَ الطَّهَارَةُ ، نَعَمْ يُكْرَهُ اسْتِعْمَالُ كُلِّ مَا احْتُمِلَ النَّجَاسَةُ عَلىَ قُرْبٍ ، وَكُلُّ عَيْنٍ تُيُقِّنَ نَجَاسَتُهَا وَلَوْ بِمُغَلَّظٍ ثُمَّ احْتَمَلَ طَهَارَتُهَا وَلَوْ عَلَى بُعْدٍ لَا تَنْجُسُ مُلَاقَاتُهُ ،- اِلَى اَنْ قَالَ - وَفِي النِّهَايَةِ : وَالضَّابِطُ أَنَّ كُلَّ مَا يَشُقُّ الْاِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِباً يُعْفَى عَنْهُ. (بغية المسترشدين، صـ 30)

قَوْلَهُ : ( عَلَى هَذَا المَيِّتِ ) وَلَوْ كَانَ الْمَيِّتُ فِي صُنْدُوْقٍ مَثَلاً صَحَّتْ الصَّلاَةُ عَلَيْهِ عَلىَ الْمُعْتَمَدِ مِنْ تَرَدُّدٍ لِبَعْضِ الْيَمَانِيِّيْنَ اه ز ي .[ فَرْعٌ ] قَالَ م ر : إذَا كَانَ الْمَيِّتُ فِي سِحْلِيَّةٍ مُسَمَّرَةٍ عَلَيْهِ لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ كَمَا لَوْ كَانَ الْإِمَامُ فِي مَحَلٍّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَأْمُومِ بَابٌ مُسَمَّرٌ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ مُسَمَّرَةً وَلَوْ بَعْضُ أَلْوَاحِهَا الَّتِي تَسَعُ خُرُوجَ الْمَيِّتِ مِنْهُ صَحَّتْ الصَّلَاةُ ا هـ . .( تحفة الحبيب على شرح الخطيب، جـ 2/ صـ 545)

JASA SHALAT JANAZAH GHAIB

JASA SHALAT JANAZAH GHAIB
a.      Deskripsi Masalah
Disuatu kawasan   ada sbuah instansi yag melayani jasa shalat jenazah Ghoib pada biasannya salah satu dari keluarga orang yang meninggal dunia atau yang mewakilinya medatangi instasi tersebut dan menyetorkan nama mayit yang akan dishalatai serta menyerahkan sejumlah uang Rp 10.000 samapai Rp 100.000 . kemudian pihak instansi mengumumkan nama orang-orang yang akan dishalati walaupn ada yang kadang tidak disebut namnya hanya dikarenakan apa yang diberi itu seidkit (kurang dari 10.000). Shalat janazah tersebut pada biasanya dilaksanakan di masjid secara berjamaah dan langsung dipimpin oleh imam. Namun imam tidak menyebutkan ataupu melihat tulisan nama-nama yang sudah dibaca padahal mayit yang dishalalti sampai sepuluh orang lebih.
b.      Pertanyaan:
1.      Termasuk akad apakah transaksi di atas?
2.      Siapakah yang bertanggungjawab pada shalat janazah?
3.      Sahkah shalat janazah dengan niat di atas?
c.      Jawaban:
1.      Termasuk akad Ijarah fasidah
2.      Tidak ada yang bertanggungjawab
3.      Syah jika ada ta’yin
d.      Rujukan:
(وَتَصِحُّ ) الْإِجَارَةُ ( لِتَجْهِيزِ مَيِّتٍ وَدَفْنِهِ وَتَعْلِيمِ الْقُرْآنِ ) وَإِنْ كَانَ كُلٌّ مِنْهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَعَيَّنْ عَلَى الْأَجِيرِ وَهُوَ عِبَادَةٌ لَا تَجِبُ لَهَا نِيَّةٌ وَذَكَرَ التَّعْلِيمَ ، مِنْ حَيْثُ إنَّهُ عِبَادَةٌ مَعَ ذِكْرِهِ السَّابِقِ مِنْ حَيْثُ التَّقْدِيرِ لَا تَكْرَارَ فِيهِ ، وَإِنْ اسْتَلْزَمَ ذِكْرُهُ السَّابِقُ صِحَّةَ الِاسْتِئْجَارِ لَهُ قَوْلُهُ : ( لِتَجْهِيزِ مَيِّتٍ ) وَإِنْ تَعَيَّنَ نَعَمْ لَا تَجُوزُ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّهَا مَقْصُودَةٌ وَتَصِحُّ فِي الصَّوْمِ عَنْهُ مِنْ قَرِيبِهِ .وْلُهُ : ( وَدَفْنِهِ ) عَطْفٌ خَاصٌّ ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَجِبُ وَحْدَهُ كَمَا فِي حَرْبِيٍّ يُؤْذِي رِيحُهُ قَوْلُهُ : (وَتَعْلِيمِ الْقُرْآنِ ) وَإِنْ تَعَيَّنَ عَلَى الْمُعَلِّمِ فَقَوْلُهُ لَمْ يَتَعَيَّنْ أَيْ أَصَالَةً ، وَفِي الشَّرْحِ الْجَوَابُ عَنْ تَكْرَارِ تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ هُنَا مَعَ مَا سَبَقَ وَإِذَا عَلَّمَ وَلَوْ جُنُبًا اسْتَحَقَّ الْأُجْرَةَ بِخِلَافِ قِرَاءَةِ الْأَجِيرِ ، كَمَا مَرَّ وَلَوْ تَرَكَ الْأَجِيرُ بَعْضَ آيَاتٍ مِمَّا اُسْتُؤْجِرَ لَهُ لَزِمَهُ إعَادَتُهَا لَا الِاسْتِئْنَافُ ، وَدَخَلَ فِي الْقُرْآنِ مَنْسُوخُ الْحُكْمِ .قَالَ شَيْخُنَا م ر وَكَذَا مَنْسُوخُ التِّلَاوَةِ أَوْ هُمَا مَعًا وَفِيهِ نَظَرٌ فَرَاجِعْهُ. (حاشيتا قليوبي – وعميرة , جـ 9 / صـ 347)
وَبِمَعْلَوْمَةِ اسْتِئْجَارِ اْلمَجْهُوْلِ فَآجَرْتُكَ إِحْدَى الَدارَيْنِ بَاطِلٌ وَبِوَاقِعَةٍ لِلْمُكْتَرِي مَا يَقَعُ نُفْعُهَا لِلْأَجِيْرِ فَلَا يَصِحُّ اْلاِسْتِئْجَارِ لِعِبَادَةٍ تَجِبُ فِيْهَا نِيَّةُ غَيْرِ نُسُكٍ كَالَصَلَاةِ لِأَنَّ اْلمَنْعَةَ فِي ذَلِكَ لِلْأَجِيْرِ لاَ اْلمُسْتَأجِرِ وَاْلإمَامَةِ وَلَوْ نَقَلَ كاَلتَرَاوِيْحِ لِأَنَّ اْلإمَامِ مُصَلٍّ لَنَفْسِهِ فَمَنْ أَرَادَ اقْتَدَي بِهِ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ الْإِمَامَة ( قوله فلا يَصِحُّ اْلاِسْتِئْجَارُ لِعِبَادَةٍ الخ ) وَذَلِكَ لِأَنّ الْقَصْدَ اِمْتِحَانُ اْلمُكَلَّفِ بِهَا بِكَسْرِ نَفْسِهِ بِالْاِمْتِثَالِ وَغَيْرِهِ لَا يَقُوْمُ مَقَامَهُ فَيْهِ وَلَا يَسْتَحِقُّ الْأَجِيْرُ شَيْئًا وَإِنْ عَمِلَ طَامِعًا كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهَ قَوْلُهُمْ كُلَّ مَا لَا يَصِحُّ الْاِسْتِئْجَارُ لَهُ لَا أُجْرَةَ لِفَاعِلِهِ وَإِنْ عَمِلَ طَامِعًا. (فتح المعين, جـ 3/ صـ 111)

وْلُهُ وَلَا يَجِبُ فِي الْحَاضِرِ تَعْيِينُهُ ) أَمَّا الْغَائِبُ فَفِيهِ تَفْصِيلٌ ، فَإِنْ كَانَ مَخْصُوصًا أَيْ بِأَنْ صَلَّى عَلَى غَائِبٍ بِخُصُوصِهِ فَلَا بُدَّ مِنْ تَعْيِينِهِ بِقَلْبِهِ وَأَمَّا إذَا كَانَ غَيْرَ مَخْصُوصٍ بِأَنْ صَلَّى عَلَى مَنْ مَاتَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِي أَقْطَارِ الْأَرْضِ فَتَصِحُّ مِنْ غَيْرِ تَعْيِينٍ ا هـ .مِنْ شَرْحِ م ر وَالرَّشِيدِيُّ عَلَيْهِ ( قَوْلُهُ : فَإِنْ عَيَّنَهُ ) أَيْ عَيَّنَ الْمَيِّتَ الْحَاضِرَ أَوْ الْغَائِبَ الْمَخْصُوصَ كَأَنْ صَلَّى عَلَى زَيْدٍ أَوْ عَلَى الْكَبِيرِ أَوْ الذَّكَرِ مِنْ أَوْلَادِهِ. (حاشية الجمل, جـ 7/ صـ 46)